Awal mulanya yang belajar di pesantren adalah masyarakat
sekitarnya. Namun lama kelamaan, banyak yang berdatangan dari luar
daerah yang ingin belajar di pesantren tersebut. Jika anak-anak yang
belajar itu dari masyarakat sekitar, maka sehabis belajar mereka bisa
pulang ke rumah masing-masing. Namun jika para santri itu dari luar
daerah, maka membutuhkan tempat tinggal. Tempat tinggal untuk
santri ini disebut pondok. Selain pondok, di dalam pesantren juga
terdapat tempat tinggal kiai dan masjid sebagai tempat shalat jamaah
dan tempat mengaji.
Jadi dalam pondok pesantren minimal ada 5 hal, yaitu:
1. Kiyai sebagai gurunya 2. Santri sebagai siswa, 3. Rumah tempat tinggal kiyai 4. Pondok, sebagai tempat tinggal santri 5. Masjid sebagai tempat ibadah
Tokoh yang pertama kali mendirikan pesantren adalah Syaikh Maulana Malik Ibrahim. Tokoh ini sering disebut sebagai bapak pondok
pesantren. Maulana Malik Ibrahim telah berhasil mendidik para
santri untuk disiapkan menjadi mubalig Islam. santrinya datang dari
masyarakat sekitar dan sebagaian dari luar daerah, termasuk para Wali
Songo. Selanjutnya santrinya yaitu Sunan Ampel mengikuti mendirikan
pesantren di Surabaya. Dia juga mendirikan pesantren Ampel Denta.
Pada tahap berikutnya bermunculan pesantren baru yang didirikan
oleh santri dari Maulana malik Ibrahim dan Sunan Ampel, seperti
Sunan Giri di Gresik, Sunan Bonang di Tuban, Sunan Drajat di Paciran
dan Raden Fattah di Demak. Para santri ini mendirikan pesantren yang
tersebar bahkan hingga luar jawa.
Perkembangan pesantren dikarenakan sistem yang dikembangkan
dalam pesantren memungkinkan pesantren berkembang pesat.
Dalam pesantren ketika santri sudah hampir selesai belajar, kiai sudah
mempersiapkan tempat untuk santri mengabdi dan bahkan mendirikan
pesantren baru. Dari sistem seperti ini yang menjadikan pesantren
dapat berkembang dengan cepat.
Tokoh yang pertama kali mendirikan pesantren adalah Syaikh Maulana Malik Ibrahim. Tokoh ini sering disebut sebagai bapak pondok pesantren.
KITAB-KITAB PESANTREN
Pada awal Islam hingga abad ke 19 M, pesantren sebagai tempat
belajar dan mengkaji kitab-kitab agama. Umumnya kitab-kitab yang
dipelajari di pesantren ada beberapa bidang; yaitu:
1. Bidang Tauhid 2. Bidang Fiqih 3. Bidang Akhlaq atau Tasawuf 4. Bidang Bahasa Arab
Pembahasan bidang tauhid adalah masalah keimanan. bidang fiqih
membahas tentang hal-hal yang berhubungan dengan ibadah dan
mu`amalah. bidang akhlaq atau tasawuf adalah tatacara hubungan
baik dengan Allah dan manusia serta alam lingkungannya. Bidang
bahasa Arab digunakan untuk memahami isi kitab-kitab yang dipelajari.
Semua bidang tersebut telah dimuat dalam kitab-kitab pesantren yang
terkenal dengan sebutan kitab mu`tabarah (populer).
Kitab-kitab mu`tabarah itu dipelajari sesuai tingkatannya, yaitu: 1. Pemula (Ibtida`i) 2. Menengah (Tsanawi/ wusta) 3. Tinggi (Aliyah) 4. Tingkatan khusus
METODE PENGAJARAN DI PESANTREN
Sejak awal berdirinya, pesantren mempunyai metode pengajaran
tersendiri. Metode itu meliputi:
1. Metode Sorogan
Metode sorogan yaitu pengajaran dengan cara santri menghadap
kiyai satu persatu dengan membawa kitab yang dipelajari. Kiyai
membacakan kitab beberapa baris dengan makna yang biasa dipakai
di pesantren. Kemudian santri membaca kitab tersebut seperti kiyai
membacanya. Biasanya ngaji secara sorogan atau individu seperti ini
dilakukan oleh santri yang belum senior dan dibatasi pada kitab-kitab
kecil saja. Metode ini dimaksudkan untuk melatih santri agar dapat
diketahui kemampuannya secara langsung oleh kiyai dalam membaca
kitab.
2. Metode Bandongan atau weton.
Sedang metode bandongan atau weton yaitu santri menghadap
kiyai secara bersama-sama dengan membawa kitab tertentu yang telah
diprogramkan. Kiyai membaca kitab dengan makna dan penjelasan
secukupnya, sedang santri mencatat ajaran kiyai itu pada kitabnya
masing-masing. Cara belajar semacam ini paling banyak dilakukan di
pesantren.
KEDUDUKAN DAN PERANAN PESANTREN
Untuk melaksanakan pengabdian kepada Agama, masyarakat dan
negara, pondok pesantren mempunyai peranan yang sangat penting,
yaitu:
1. Tempat untuk menanamkan dan membentuk aqidah dan
keyakinan Islam. 2. Tempat mempelajari serta melaksanakan ibadah. 3. Tempat mempelajari ilmu-ilmu dan mempraktekkannya 4. Tempat menanamkan dan melatih akhlaqul karimah 5. Tempat menumbuhkan dan memupuk semangat mengabdi
kepada agama, masyarakat dan negara.
Pesantren dapat berfungsi sebagai penyaring dari budaya baru
yang datang. Budaya yang baik dapat diambil sedangkan budaya buru
dapat dibuang. Di dalam pesantren juga diajarkan tentang membela
tanah air.
Sebuah kata mutiara yang populer di pesantren adalah:
"Cinta tanah air adalah sebagian dari iman."
Santri harus memiliki iman, ilmu, ibadah dan akhlaqul karimah yang kuat. Santri disiapkan untuk menjadi orang-orang yang mengambil bagian dalam pembangunan bangsa dan membentuk watak yang mulia.
Pesantren adalah salah satu
penjaga persatuan bangsa