Header Ads Widget

Ticker

6/Artikel/ticker-posts

ASAL USUL PONDOK PESANTREN

 

Awal mulanya yang belajar di pesantren adalah masyarakat sekitarnya. Namun lama kelamaan, banyak yang berdatangan dari luar daerah yang ingin belajar di pesantren tersebut. Jika anak-anak yang belajar itu dari masyarakat sekitar, maka sehabis belajar mereka bisa pulang ke rumah masing-masing. Namun jika para santri itu dari luar daerah, maka membutuhkan tempat tinggal. Tempat tinggal untuk santri ini disebut pondok. Selain pondok, di dalam pesantren juga terdapat tempat tinggal kiai dan masjid sebagai tempat shalat jamaah dan tempat mengaji. Jadi dalam pondok pesantren minimal ada 5 hal, yaitu:

1. Kiyai sebagai gurunya
2. Santri sebagai siswa,
3. Rumah tempat tinggal kiyai
4. Pondok, sebagai tempat tinggal santri
5. Masjid sebagai tempat ibadah

Tokoh yang pertama kali mendirikan pesantren adalah Syaikh Maulana Malik Ibrahim. Tokoh ini sering disebut sebagai bapak pondok pesantren. Maulana Malik Ibrahim telah berhasil mendidik para santri untuk disiapkan menjadi mubalig Islam. santrinya datang dari masyarakat sekitar dan sebagaian dari luar daerah, termasuk para Wali Songo. Selanjutnya santrinya yaitu Sunan Ampel mengikuti mendirikan pesantren di Surabaya. Dia juga mendirikan pesantren Ampel Denta. Pada tahap berikutnya bermunculan pesantren baru yang didirikan oleh santri dari Maulana malik Ibrahim dan Sunan Ampel, seperti Sunan Giri di Gresik, Sunan Bonang di Tuban, Sunan Drajat di Paciran dan Raden Fattah di Demak. Para santri ini mendirikan pesantren yang tersebar bahkan hingga luar jawa.

Perkembangan pesantren dikarenakan sistem yang dikembangkan dalam pesantren memungkinkan pesantren berkembang pesat. Dalam pesantren ketika santri sudah hampir selesai belajar, kiai sudah mempersiapkan tempat untuk santri mengabdi dan bahkan mendirikan pesantren baru. Dari sistem seperti ini yang menjadikan pesantren dapat berkembang dengan cepat.

Tokoh yang pertama kali mendirikan pesantren adalah Syaikh Maulana Malik Ibrahim. Tokoh ini sering disebut sebagai bapak pondok pesantren.

KITAB-KITAB PESANTREN

Pada awal Islam hingga abad ke 19 M, pesantren sebagai tempat belajar dan mengkaji kitab-kitab agama. Umumnya kitab-kitab yang dipelajari di pesantren ada beberapa bidang; yaitu:

1. Bidang Tauhid
2. Bidang Fiqih
3. Bidang Akhlaq atau Tasawuf
4. Bidang Bahasa Arab

Pembahasan bidang tauhid adalah masalah keimanan. bidang fiqih membahas tentang hal-hal yang berhubungan dengan ibadah dan mu`amalah. bidang akhlaq atau tasawuf adalah tatacara hubungan baik dengan Allah dan manusia serta alam lingkungannya. Bidang bahasa Arab digunakan untuk memahami isi kitab-kitab yang dipelajari. Semua bidang tersebut telah dimuat dalam kitab-kitab pesantren yang terkenal dengan sebutan kitab mu`tabarah (populer).

Kitab-kitab mu`tabarah itu dipelajari sesuai tingkatannya, yaitu:
    1. Pemula (Ibtida`i)
    2. Menengah (Tsanawi/ wusta)
    3. Tinggi (Aliyah)
    4. Tingkatan khusus

METODE PENGAJARAN DI PESANTREN

Sejak awal berdirinya, pesantren mempunyai metode pengajaran tersendiri. Metode itu meliputi:

1. Metode Sorogan

Metode sorogan yaitu pengajaran dengan cara santri menghadap kiyai satu persatu dengan membawa kitab yang dipelajari. Kiyai membacakan kitab beberapa baris dengan makna yang biasa dipakai di pesantren. Kemudian santri membaca kitab tersebut seperti kiyai membacanya. Biasanya ngaji secara sorogan atau individu seperti ini dilakukan oleh santri yang belum senior dan dibatasi pada kitab-kitab kecil saja. Metode ini dimaksudkan untuk melatih santri agar dapat diketahui kemampuannya secara langsung oleh kiyai dalam membaca kitab.

2. Metode Bandongan atau weton.

Sedang metode bandongan atau weton yaitu santri menghadap kiyai secara bersama-sama dengan membawa kitab tertentu yang telah diprogramkan. Kiyai membaca kitab dengan makna dan penjelasan secukupnya, sedang santri mencatat ajaran kiyai itu pada kitabnya masing-masing. Cara belajar semacam ini paling banyak dilakukan di pesantren.

KEDUDUKAN DAN PERANAN PESANTREN

Untuk melaksanakan pengabdian kepada Agama, masyarakat dan negara, pondok pesantren mempunyai peranan yang sangat penting, yaitu:

    1. Tempat untuk menanamkan dan membentuk aqidah dan keyakinan Islam.
    2. Tempat mempelajari serta melaksanakan ibadah.
    3. Tempat mempelajari ilmu-ilmu dan mempraktekkannya
    4. Tempat menanamkan dan melatih akhlaqul karimah
    5. Tempat menumbuhkan dan memupuk semangat mengabdi kepada agama, 
        masyarakat dan negara.

Pesantren dapat berfungsi sebagai penyaring dari budaya baru yang datang. Budaya yang baik dapat diambil sedangkan budaya buru dapat dibuang. Di dalam pesantren juga diajarkan tentang membela tanah air.

Sebuah kata mutiara yang populer di pesantren adalah:

"Cinta tanah air adalah sebagian dari iman."

Santri harus memiliki iman, ilmu, ibadah dan akhlaqul karimah yang kuat. Santri disiapkan untuk menjadi orang-orang yang mengambil bagian dalam pembangunan bangsa dan membentuk watak yang mulia.

Pesantren adalah salah satu penjaga persatuan bangsa