H. Jaenudin Sukenda: Fondasi Berdirinya Madrasah Nurul Hidayah
Desa Ujungpendok Jaya, Kecamatan Widasari, Indramayu, dikenal sebagai salah satu desa yang memiliki tradisi keagamaan kuat dan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan. Di tengah kehidupan agraris yang sederhana, muncul sosok teladan yang memberikan warna dan arah bagi perkembangan pendidikan Islam di desa tersebut, yaitu H. Jaenudin Sukenda.
Lahir pada tahun 1941 dari pasangan H. Samsudin dan Hj. Munirah, H. Sukenda tumbuh sebagai seorang petani sekaligus pedagang yang ulet. Keuletannya dalam bekerja membuatnya sukses secara ekonomi, namun ia tidak pernah melupakan kewajiban spiritual sebagai seorang muslim. Prinsip hidupnya sederhana namun mendalam: menunaikan zakat dan sedekah adalah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Prinsip itu kemudan di tularkan kepada kelima anak-anaknya.
Prinsip Hidup dan Kepedulian Sosial yang di miliki H. Sukenda jarang sekali di miliki orang lain, ia menekankan bahwa pentingnya berbuat baik kepada sesama. Bahkan menurut anak tertuanya H. Khasan, H. Sukenda pernah berkata dalam bahasa Jawa Indramayu:
"Baka sira pengen uripe luwih gawea bagus karo wong terutama Zakat"
(“Jika kamu ingin hidup lebih baik, buatlah kebaikan kepada orang lain terutama dengan zakat”).
Ungkapan ini menjadi pegangan hidupnya. Ia percaya bahwa keberkahan hidup datang dari kepedulian sosial dan ketaatan kepada Allah.
Peran dalam Pembangunan MDTU Nurul Hidayah
Meskipun kemudian hijrah ke Jatibarang, H. Sukenda tidak pernah melupakan kampung halamannya. Ia terus mendukung kegiatan keagamaan dan pembangunan sarana ibadah di Desa Ujungpendok Jaya. Kepeduliannya berlanjut hingga akhir hayatnya pada tahun 2004 pada usia 63 tahun.
Dedikasi H. Sukenda menginspirasi tokoh agama setempat, termasuk Guru Wastama, Guru Iri Sahrianto, Ust. Abdul Hannan dan beberapa ulama desa lainnya, untuk mendirikan sebuah madrasah. Mereka berdiskusi panjang mencari solusi, hingga akhirnya H. Sukenda dengan penuh keikhlasan mewakafkan sebidang tanah miliknya.
Tanah wakaf tersebut kemudian menjadi lokasi berdirinya Madrasah Nurul Hidayah, dengan akta wakaf resmi bernomor 71/W.2-I/2005. kala itu KH. Wasim ditunjuk sebagai nadzir (pengelola wakaf). Madrasah ini menjadi pusat pendidikan Islam di Desa Ujungpendok Jaya, tempat anak-anak belajar Al-Qur’an, ilmu agama, dan nilai-nilai moral.
Untuk mengenang jasa besar H. Sukenda, yayasan yang menaungi Lembaga madrasah tersebut diberi nama "Yayasan Nurul Hidayah Sukenda". Nama ini menjadi simbol penghormatan atas pengabdian dan ketulusan beliau dalam membangun pendidikan Islam di desanya.
Kisah H. Jaenudin Sukenda bukan hanya tentang wakaf tanah, tetapi tentang teladan hidup seorang muslim yang menjadikan zakat, sedekah, dan kepedulian sosial sebagai fondasi keberkahan. Warisan beliau terus hidup melalui madrasah yang kini menjadi pusat pendidikan generasi muda. Madrasah Nurul Hidayah bukan sekadar bangunan fisik, melainkan wujud nyata dari nilai-nilai keikhlasan, pengabdian, dan cinta kepada masyarakat. Kisah ini mengingatkan kita bahwa satu tindakan kebaikan dapat menjadi fondasi bagi lahirnya generasi penerus yang berilmu dan berakhlak mulia.
0 Komentar