Iklan

Kehidupan Desa dan Napas Aswaja


Di sebuah desa di Jawa Barat, suara doa tahlil bergema dari surau kecil. Anak-anak berlarian di halaman, sementara para orang tua duduk bersila, melantunkan kalimat la ilaha illallah. Di balai desa, warga bergotong royong memperbaiki jalan, tanpa memandang siapa yang berbeda keyakinan atau latar belakang.

Inilah wajah nyata dari Ke-Aswajaan. Ia bukan sekadar istilah teologis, melainkan napas kehidupan sehari-hari. Nilai-nilainya hadir dalam tradisi selametan, dalam sikap menghormati guru, dalam gotong royong membangun desa, dan dalam doa bersama yang menyatukan hati.

Aswaja mengajarkan tawassuth (moderasi), agar umat tidak terjebak dalam ekstrem kanan atau kiri. Ia menanamkan tasamuh (toleransi), sehingga perbedaan bukanlah ancaman melainkan rahmat. Ia menuntun pada tawazun (keseimbangan), agar dunia dan akhirat berjalan seiring. Dan ia menegakkan i’tidal (keadilan), agar setiap orang mendapat haknya.

Nilai-nilai ini bukan hanya teori, melainkan praktik nyata yang diwariskan oleh para ulama besar NU.

Kisah Tokoh-Tokoh Aswaja NU

KH. Hasyim Asy’ari

Pendiri Nahdlatul Ulama ini menekankan pentingnya menjaga tradisi Islam Nusantara. Dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim, beliau menekankan adab antara guru dan murid sebagai inti pendidikan. Sikap tawassuth beliau tampak ketika NU didirikan: bukan untuk memusuhi kelompok lain, melainkan untuk menjaga tradisi yang sudah mengakar di masyarakat.

KH. Wahid Hasyim

Putra KH. Hasyim Asy’ari ini adalah tokoh yang menjembatani Islam dan kebangsaan. Ia berperan besar dalam perumusan dasar negara Indonesia. Sikap tasamuh beliau tampak dalam keterbukaan terhadap perbedaan, sehingga umat Islam bisa hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain dalam bingkai NKRI.

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Gus Dur adalah simbol nyata dari Islam yang ramah. Beliau menegakkan i’tidal dengan membela kaum minoritas, memperjuangkan hak-hak mereka, dan menolak diskriminasi. Gus Dur sering berkata bahwa “Islam datang untuk memuliakan manusia, bukan untuk merendahkan.” Dalam kepemimpinannya, nilai Aswaja tampak jelas: moderasi, toleransi, keseimbangan, dan keadilan.

KH. Ahmad Siddiq

Beliau dikenal sebagai tokoh yang menegaskan hubungan antara Islam dan Pancasila. Dengan pandangan tawazun, KH. Ahmad Siddiq menekankan bahwa umat Islam tidak perlu merasa terancam oleh dasar negara, karena Pancasila sejalan dengan nilai Aswaja.

Aswaja di Era Modern

Di era digital, nilai Aswaja tetap relevan. Ia mengingatkan agar kita bijak bermedia sosial, tidak mudah terprovokasi, dan tetap menjaga ukhuwah. Ia menjadi benteng dari radikalisme, sekaligus jembatan untuk merawat persatuan bangsa.

Ketika hoaks dan ujaran kebencian menyebar di media sosial, prinsip tasamuh dan tawassuth menjadi pedoman agar umat tidak terjebak dalam polarisasi. Ketika dunia semakin materialistis, prinsip tawazun mengingatkan agar kita tetap menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat.

Ke-Aswajaan adalah cerita tentang Islam yang ramah, bukan marah. Tentang agama yang hadir dengan senyum, bukan ancaman. Tentang jalan tengah yang membuat hidup lebih damai, adil, dan seimbang.

Ia adalah warisan para ulama NU yang terus hidup dalam doa tahlil di surau desa, dalam gotong royong membangun jalan, dalam sikap menghormati guru, dan dalam perjuangan menjaga persatuan bangsa.

Posting Komentar

0 Komentar