Memperingati Isra Mi'raj bersama Santri MDTU Nurul Hidayah
Di Desa Ujungpendok Jaya, tepat di madrasah MDTU Nurul Hidayah, para santri berkumpul di masjid menjelang peringatan Isra Mi’raj. Ustadz mereka duduk di depan, membuka kisah agung perjalanan Nabi Muhammad ﷺ. Dengan suara lembut, beliau menceritakan bagaimana Nabi menaiki Buraq, melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke langit hingga Sidratul Muntaha. Di sanalah beliau menerima perintah shalat sebagai hadiah terbesar untuk umat Islam.
Ustadznya pun mulai menceritakan tentang perjalanan spiritual yang di lakukan Nabi Muhammad ﷺ.
Di sebuah malam yang sunyi, Nabi Muhammad ﷺ sedang beristirahat di sekitar Ka’bah. Tiba-tiba Malaikat Jibril datang membawa Buraq, hewan putih bercahaya yang sangat cepat. Nabi pun menaikinya, dan dalam sekejap beliau dibawa dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina.
Di sana, Nabi melaksanakan shalat dan menjadi imam bagi para nabi terdahulu. Setelah itu, beliau dibawa naik ke langit dalam perjalanan yang disebut Mi’raj. Nabi Muhammad ﷺ naik bersama Malaikat Jibril melewati tujuh langit, di langit pertama, beliau bertemu Nabi Adam, di langit kedua, bertemu Nabi Isa dan Nabi Yahya, di langit ketiga, bertemu Nabi Yusuf yang sangat rupawan, di langit keempat, bertemu Nabi Idris, di langit kelima, bertemu Nabi Harun, di langit keenam, bertemu Nabi Musa yang menangis karena umat Nabi Muhammad akan lebih banyak masuk surga, dan di langit ketujuh, bertemu Nabi Ibrahim di dekat Baitul Ma’mur, tempat malaikat bertawaf.
Akhirnya, Nabi Muhammad ﷺ sampai di Sidratul Muntaha, pohon besar yang menjadi batas pengetahuan makhluk. Di sanalah beliau menerima perintah shalat dari Allah SWT.
Awalnya, shalat diwajibkan 50 kali sehari. Namun, setelah Nabi Musa memberi saran, Nabi Muhammad ﷺ memohon keringanan kepada Allah hingga akhirnya menjadi 5 waktu sehari semalam, dengan pahala tetap setara 50.
Peristiwa ini mengajarkan bahwa shalat adalah hadiah terbesar untuk umat Islam. Shalat menjadi jembatan kita untuk dekat dengan Allah, sebagaimana Nabi Muhammad ﷺ dekat dengan-Nya dalam perjalanan agung itu.
Setelah Ustadz menceritakan ada santri kecil bertanya:
“Ustadz, kenapa shalat hanya lima waktu, padahal awalnya lima puluh?” Ustadz tersenyum dan menjawab: “Itulah kasih sayang Allah. Allah ingin kita kuat beribadah, tapi tetap mudah menjalankannya. Lima waktu cukup, tapi pahalanya besar sekali.”
Santri-santri pun terdiam, lalu mereka bersama-sama melantunkan doa. Suasana penuh kehangatan, seperti Nabi Muhammad ﷺ yang mendapat hadiah shalat untuk seluruh umatnya.
Isra Mi’raj adalah kisah indah tentang perjalanan Nabi Muhammad ﷺ yang penuh keajaiban. Bagi santri MDTU Nurul Hidayah di Desa Ujungpendok Jaya, kisah ini bukan hanya dongeng, melainkan pelajaran berharga: bahwa shalat adalah tiang agama, hadiah dari Allah, dan jalan menuju surga.
0 Komentar